RSU Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) menuntaskan rangkaian Pendampingan Akreditasi dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI) yang berlangsung selama dua hari, pada 22–23 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan pendamping akreditasi, dr. Dwi Rizki Wulandari, M.Pd dan Ns. Oktarina, S.Kep., M.M., FISQua., FRSPH, yang melakukan telaah dokumen, diskusi bersama kelompok kerja (pokja), hingga hospital tour sebagai bagian dari evaluasi kesiapan rumah sakit dalam menghadapi survei akreditasi.

Pada hari pertama, sebanyak 16 kelompok kerja mempresentasikan berbagai program, capaian, serta implementasi standar mutu dan keselamatan pasien yang telah dijalankan selama ini. Berbagai dokumen pendukung ditelaah secara mendalam untuk memastikan kesesuaian dengan standar akreditasi terkini. Sementara pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan hospital tour untuk melihat secara langsung implementasi pelayanan, sarana prasarana, serta budaya mutu yang diterapkan di lingkungan RSU UMM.
Dalam sesi evaluasi, dr. Dwi Rizki Wulandari atau yang akrab disapa dr. Kiki mengingatkan pentingnya kelengkapan data dan dokumen pendukung yang masih perlu dipersiapkan menjelang survei akreditasi. Selain itu, dr. Kiki menekankan bahwa konsistensi dalam pendokumentasian menjadi kunci dalam menunjukkan mutu pelayanan yang telah dilakukan rumah sakit. Ia juga memberikan apresiasi terhadap beberapa unit yang dinilai telah berjalan baik.

“Pengelolaan limbah dan sistem genset di RSU UMM sudah sangat baik dan menjadi salah satu poin yang patut dipertahankan,” ujarnya.
Sementara itu, Ns. Oktarina, S.Kep., M.M., FISQua., FRSPH menyoroti sejumlah aspek yang kini menjadi perhatian dalam penilaian akreditasi rumah sakit.
“Rumah sakit perlu lebih memperhatikan pengelolaan Google Review dan pelaporan terkait bullying sebagai bagian dari indikator budaya organisasi yang sehat. Bu Okta juga memberikan perhatian khusus terhadap implementasi Rekam Medis Elektronik (RME),”tutur perempuan asal Pulau Dewata tersebut.
Menurutnya, dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan ke depan, penyelesaian dan optimalisasi RME perlu menjadi prioritas karena menjadi salah satu persyaratan penting dalam proses akreditasi. Di sisi lain, ia turut memberikan apresiasi terhadap kinerja Instalasi Gizi dan Instalasi Farmasi RSU UMM yang dinilai telah menunjukkan tata kelola dan pelayanan yang baik.
Pendampingan ini menjadi pengingat bahwa mutu pelayanan merupakan proses yang terus berkembang. Berbagai rekomendasi yang diberikan akan menjadi prioritas tindak lanjut bagi seluruh unit di RSU UMM. Dengan komitmen untuk terus berbenah dan berinovasi, RSU UMM optimistis mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin profesional, berorientasi pada keselamatan pasien, serta memenuhi standar akreditasi yang ditetapkan.