Call : 0341-561666 Emergency : 081225555119 WhatsApp Layanan Pengaduan Instagram YouTube Tiktok Lokasi

Belakangan ini, hantavirus kembali menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan mengenai sejumlah kasus pada penumpang kapal pesiar internasional. Menurut Prof. Dr. Djoni Djunaedi, SpPD-KPTI, hantavirus bukanlah penyakit baru. Virus ini pertama kali dikenal saat Perang Korea ketika ribuan tentara mengalami demam disertai gangguan ginjal yang awalnya dikira demam berdarah. Hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui hewan pengerat seperti tikus.

Prof. Djoni menjelaskan bahwa virus ini terdapat pada air liur, urine, darah yang mengering, dan kotoran tikus. Penularan paling sering terjadi ketika partikel tersebut mengering, bercampur dengan debu, lalu terhirup oleh manusia. Selain itu, virus juga dapat masuk melalui luka pada kulit, mata, hidung, mulut, atau akibat gigitan tikus yang terinfeksi. “Tikus menjadi sumber penularan yang paling sering karena hidup sangat dekat dengan manusia,” ujarnya.

Secara umum, hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu biasa seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan badan lemas sehingga kerap diabaikan. Padahal pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas, gangguan fungsi ginjal, hingga penurunan kesadaran yang memerlukan penanganan segera di rumah sakit.

Kelompok yang berisiko lebih tinggi terkena hantavirus adalah mereka yang sering terpapar lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti petani, petugas kebersihan, pengelola sampah, pekerja gudang, hingga pendaki gunung dan pecinta alam. Menurut Prof. Djoni, semakin sering seseorang berinteraksi dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus, maka risiko infeksinya juga akan meningkat. Namun demikian, tidak semua infeksi menimbulkan gejala berat, bahkan sebagian dapat menyerupai flu ringan dan tidak terdeteksi.

Pencegahan hantavirus sangat erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan dan pengendalian tikus. Rumah sebaiknya dijaga agar tidak menjadi tempat bersarang tikus dengan menutup lubang-lubang yang menjadi akses masuk, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta mengelola sampah dengan baik. Saat membersihkan area yang banyak terdapat tikus atau kotorannya, masyarakat disarankan menggunakan masker dan sarung tangan. Prof. Djoni juga mengingatkan agar tidak menggunakan sapu karena dapat membuat debu yang mengandung partikel virus beterbangan. “Sebaiknya gunakan pel basah agar debu tidak menyebar ke udara,” jelasnya.

Menutup perbincangan, Prof. Djoni mengajak masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Hantavirus bukan penyakit yang perlu ditakuti secara berlebihan, tetapi juga tidak boleh diremehkan. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan mengenali gejala sejak dini, risiko penularan dapat diminimalkan. “Jaga kebersihan lingkungan dan tingkatkan kewaspadaan, karena pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan,” pesannya.