Call : 0341-561666 Emergency : 081225555119 WhatsApp Layanan Pengaduan Instagram YouTube Tiktok Lokasi

Banyak orang menganggap napas berbunyi, batuk berkepanjangan, atau dada terasa berat sebagai keluhan biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda asma yang sering kali tidak disadari. Menurut dr. Zata Dini, Sp.P, asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran napas yang bersifat heterogen, sehingga gejala dan tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap individu. “Asma tidak selalu harus sesak napas. Bisa berupa bunyi ngik-ngik, dada terasa berat, bahkan hanya batuk saja,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Zata menjelaskan bahwa pencetus asma juga berbeda-beda pada setiap orang. Faktor yang paling sering memicu kekambuhan antara lain udara dingin, perubahan cuaca yang ekstrem, aktivitas fisik berlebihan, infeksi saluran pernapasan, hingga paparan alergen tertentu. Ia menambahkan bahwa sebagian besar penderita asma biasanya mampu mengenali kondisi yang menjadi pemicu keluhannya. Dengan mengetahui pencetus tersebut, pasien dapat lebih mudah mengendalikan penyakitnya dan mencegah kekambuhan.

Asma juga tidak hanya dialami oleh anak-anak. Berdasarkan pedoman Global Initiative for Asthma (GINA), terdapat beberapa tipe asma, termasuk asma yang baru muncul saat usia dewasa. Meski banyak kasus memiliki faktor keturunan, seseorang tanpa riwayat keluarga asma tetap berisiko mengalaminya. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala seperti batuk yang tidak kunjung sembuh, napas berbunyi, atau rasa berat di dada, terutama jika keluhan sering muncul pada malam atau dini hari.

Mengenai pengobatan, dr. Zata menegaskan bahwa tujuan utama terapi asma bukanlah menyembuhkan, melainkan mengontrol penyakit agar penderita dapat beraktivitas normal tanpa gangguan. Salah satu terapi yang sering digunakan adalah inhaler. Namun, penggunaan inhaler harus sesuai petunjuk dokter dan dievaluasi secara berkala. “Asma yang terkontrol memungkinkan pasien menjalani aktivitas seperti biasa, bahkan suatu saat bisa mengurangi hingga menghentikan penggunaan inhaler sesuai evaluasi dokter,” ujarnya.

Di akhir edukasinya, dr. Zata mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga sesak napas berat untuk memeriksakan diri. Pemeriksaan sejak muncul gejala ringan dapat membantu diagnosis dan penanganan lebih dini. “Kalau sering ngik-ngik, batuk tidak sembuh-sembuh, atau dada terasa berat, jangan menunggu sesak. Segera konsultasikan ke dokter paru,” pesannya. Dengan diagnosis yang tepat, pengobatan yang teratur, dan penghindaran faktor pencetus, penderita asma tetap dapat hidup sehat dan produktif.